Keluarga merupakan kelompok social yang pertama dalam kehidupan manusia dimana ia belajar dan menyetakan diri sebagai manusia yang bersosialisasi dengan sesamanya. Sosialisasi atau interaksi yang utama adalah interaksi dalam keluarga. Di dalam keluarga,kita belajar bekerja sama, bantu membantu, serta belajar memperhatikan keinginan-keinginan orang lain. Apabila interaksi social di dalam keluarga tidak berjalan lancer, kemungkinan besar tingkah lakunya akan menyimpang(delinkuen). Perilaku yang menyimpang adalah suatu perilaku yang tidak sesuai dengan norma agama, maupun norma yang berlaku dalam masyarakat.
Perilaku yang menyimpang dapat terjadi dalam diri setiap anggita keluarga tanpa terkecuali. Dan hal ini akan terulang terus-menerus dari generasi ke generasi menjadi seperti lingkaran setan. Orang tua yang bercerai akan menghasilkan anak-anak dengan kemungkinan 2x bercerai apabila ia berkeluarga nantinya. Orang tua yang sering mengalami konflik, akan memproduksi anak dengan sifat-sifat yang lebih antisocial. Dalam penelitian terbaru, yang diturunkan secara genetic(dari orang tua kepada anaknya) bukan sekedar faktor fisik tetapi juga faktor psikologis. Orang tua mengalami stress dalam hidupnya akan menghasilkan anak-anak yang lebih stress. Faktor-faktor psikologis yang diturunkan secara genetik juga diteliti menyangkut memori(ingatan). Ingatan terhadap suatu peristiwa yang tidak enak seperti kekerasan dalam rumah tangga termasuk suatu ingatan yang diturunkan kepada anak-anaknya. Salah satu faktor utama dalam keluarga yang mempengaruhi perkembangan anak adalah faktor keutuhan keluarga, disamping ada faktor-faktor lain, seperti keadaan ekonomi misalnya. Yang dimaksud dengan keutuhan keluarga adalah keutuhan dalam struktur keluarga, yaitu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. Apabila tidak ada ayah atau ibu atau bahkan keduanya, maka struktur keluarga sudah tidak bisa dikatakan utuh lagi. Ketiadaan ayah atau ibu bisa disebabkan oleh:
- Perceraian
- Konflik antara ayah dan ibu
- Ketidak dekatan antara orang tua dengan anak-anaknya
- Ayah atau ibu jarang pulang ke rumah dan berbulan-bulan meninggalkan anaknya karena tugas atau karena hal-hal lain dan hal ini terjadi secara berulang-ulang.
Ketidak utuhan keluarga berpengaruh negatif terhadap perkembangan sosial anak-anak. H. Thomae di jerman barat pada tahun 1957 meneliti penilaian guru terhadap prestasi dan perilaku anak didiknya. Dan dari hasil penelitian diatas ditarik kesimpulan bahwa pengaruh ketidakutuhan keluarga mempunyai peranan yang negatif terhadap perkembangan kecakapan anak di sekolah.
Ketidakutuhan keluarga juga akan menghasilkan perilaku yang menyimpang. Ketidakutuhan dapat juga diartikan tidak adanya kedekatan di antara oanggota keluarga. Dalam penelitian W.A. Gerungan juga didapat kesimpulan bahwa anak yang tidak pernah menceritakan pengalaman hidupnya atau cita-citanya kepada orang tua sebanyak 39% memiliki perilaku yang menyimpang dibanding dengan anak-anak yang pernah menceritakan keberadaan dirinya kepada orang tua. Hal ini disebabkan karena orang tua tidak mempunyai cukup waktu untuk berinteraksi dengan anak.
Pertanyaannya adalah: “mengapa dapat timbul perilaku yang menyimpang dalam diri anak dari keluarga yang tidak utuh?”. Jawabannya adalah anak delinkuen seringkali tidak mendapatkan cukup perhatian dalam penerapan norma-norma tingkah laku yang wajar dari kedua orang tuanya. Tidak ada atau jarangnya mendapat hukuman(pengarahan)dari orangtua menyebabkan anak menjadi delinkuen.
Perilaku yang menyimpang yang bersifat fisik maupun psikologis adalah penyimpangan gender dalam diri si anak. Ketidakhadiran orang tua akan menimbulkan kesulitan identifikasi gender si anak. Identifikasi gender adalah proses pembelajaran tingkah laku dengan mencontoh suatu model gender tertentu sesuai dengan kodratnya. Tidak hadirnya ayah dalah kehidupan keluarga, sehingga tidak ada model seorang ayah atau seorang laki-laki akan menyulitkan anak laki-laki dalam proses identifikasi gender. Ia mempunyai kecenderungan pada akhirnya menjadi seorang yang feminim atau bahkan menjadi gay. Demikian juga sebaliknya. Ketidak hadiran seorang ibu akan menyulitkan proses identifikasi gender seorang anak perempuan. Ia akan menjadi seorang yang tomboy atau menjadi lesbian. Mengapa bisa terjadi penyimpangan seksual dalam hal ini? Kesulitan yang dihadapi anak dengan tidak hadirnya orang tua bukan hanya pada identifikasi gender saja, tetapi juga pada proses identifikasi seksual pada anak-anak. Sebenarnya sejak masa puber, seorang anak akan mengarahkan hasrat seksualnya kepada orang dengan jenis kelamin yang berbeda dengan gender mereka. Dan mereka melihat atau mengidentifikasi (mencontoh)hal ini dari perilaku orang tua mereka. Ketidakharmonisan dalam diri orang tua mereka menimbulkan kebinggungan atau kacaunya proses identifikasi ini.
Melalui penjelasan di atas dapatlah kita simpulkan bahwa kehadiran dan keharmonisan kehidupan orang tua sangat berperan dalam kehidupan seorang anak. Hanya orang tua yang dapat memutus sejarah kehidupan yang jelek agar jangan sampai terulang dalam kehidupan si anak. Dalam hal ini diperlukan pemikiran ulang pada diri orang tua sebelum ia bersikap yang nantinya akan merigukan diri anak-anaknya.
0 komentar:
Posting Komentar